SUBJECTIVE WELL BEING PADA TUNARUNGU YANG AKAN MENIKAH

  • HETTI SARI RAMADHANI Universitas 17 Agustus 1945
  • NINDIA PRATITIS Universitas 17 Agustus 1945
  • AKTA RIRIN ARISTAWATI Universitas 17 Agustus 1945
Keywords: subjective well being, tunarungu

Abstract

Memasuki usia dewasa, individu tunarungu mengalami kebutuhan intimasi yang sama dengan individu normal lainnya. Kebutuhan intimasi merupakan kebutuhan untuk mulai mencari pasangan dan menjalin hubungan deep relationship dengan orang lain. Kebutuhan ini akan menjadi sulit bagi penyandang tunarungu karena keterbatasannya menyampaikan komunikasi pada orang lain dan penyandang tunarungu biasanya mengalami kondisi tunawicara dan terhambat dalam keterampilan konseptual bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana subjective well being pada tunarungu yang akan menikah, sehingga terlihat bagaimana kesiapan dewasa tunarungu memahami dirinya dan cara dewasa tunarungu melihat dunia sekitarnya (world view). Pendekatan yang digunaakan adalah pendekatan kualitatif menggunakan tipe penulisan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara dan observasi. Sedangkan alat bantu yang digunakan adalah pedoman wawancara, pedoman observasi dan alat perekam. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan dengan subjective well being yang tinggi pada diri tunarungu akan menggambarkan kualitas diri yang mengagumkan dalam menghadapi setiap hal kehidupannya. Seseorang menjadi lebih baik dalam menempatkan emosi, lebih mampu mengontrol emosi dan lebih baik dalam memandang berbagai peristiwa kehidupan. Sehingga diharapkan subjective well being memudahkan tunarungu yang menjalani tahap pernikahan dalam kehidupannya.

Published
2018-10-27