SITUASI KEBAHASAAN DI KABUPATEN LUMAJANG: DAERAH PENCILAN, TRANSISI, SERTA KONTAK BAHASA DAN DIALEK SEBAGAI ACUAN DALAM PENENTUAN MUATAN LOKAL BAHASA DAERAH

  • AGUSNIAR DIAN SAVITRI Universitas Negeri Surabaya
  • DIANITA INDRAWATI Universitas Negeri Surabaya
  • SUHARTONO . Universitas Negeri Surabaya
Keywords: daerah pencilan; daerah transisi; kontak bahasa dan dialek; muatan lokal bahasa daerah.

Abstract

Masyarakat di Kabupaten Lumajang terdiri atas tiga etnik, yaitu Jawa, Madura, dan Tengger. Ketiga etnik tersebut cenderung hidup berkelompok dan menggunakan bahasanya dalam komunikasi sehari-hari sehingga terbentuk kantong bahasa dan dialek di Kabupaten tersebut. Berdasarkan situasi tersebut, Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan situasi kebahasaan di Kabupaten Lumajang yang berupa daerah pencilan, transisi, dan daerah kontak bahasa dan dialek yang nantinya dapat digunakan sebagai acuan dalam penentuan muatan lokal bahasa daerah di Kabupaten Lumajang. Titik pengamatan penelitian ini ada enam titik. Metode pengumpulan data adalah pupuan lapangan dan metode analisis data yang digunakan adalah metode dialektometri. Hasilnya, situasi kebahasaan di Kabupaten Lumajang terdiri atas 1) daerah transisi dialek Madura timur dengan dialek Madura barat yang mempertahankan ciri dialek Madura barat dan mempertahankan ciri dialek Madura timur; 2) daerah transisi bahasa Madura ke Jawa yang merupakan daerah bilingual; 3) daerah pencilan bahasa Madura serta daerah pencilan dialek Tengger yang mempertahankan bentuk relik bahasa Madura dan Jawa; dan 4) daerah pakai dialek Jawatimuran. Keempat daerah itu muncul karena adanya kontak bahasa Jawa dan Madura di Kabupaten Lumajang. Situasi kebahasaan tersebut dapat dijadikan acuan untuk menentukan muatan lokal bahasa daerah di Kabupaten Lumajang.

Published
2018-12-13