SUPPLY CHAIN SAYURAN ORGANIK DI KOTA AMBON

  • NATELDA R. TIMISELA Universitas Pattimura
  • ESTER D. LEATEMIA Universitas Pattimura
  • FRANSIN POLNAYA Universitas Pattimura
Keywords: : supply chain, sayuran organic, Dusun Aerlow, Desa Waai, konsumen.

Abstract

Tujuan penelitian untuk menganalisis supply chain sayuran organik. Penelitian dilaksanakan di Dusun Aerlow dan Desa Waai pada bulan Mei-Juli 2018. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive sampling dengan alasan bahwa kedua lokasi sebagai lokasi binaan untuk pengembangan sayuran organik. Penentuan sampel dilakukan secara purposive sampling karena petani pada kedua lokasi merupakan penghasil sayuran organik secara kontinu untuk menjawab kebutuhan pasar. Jumlah sampel sebanyak 20 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sayuran organik segar dipanen petani kemudian petani melakukan proses pencucian setelah itu dikemas dalam plastik dan melajutkan ke pihak penyalur yaitu frismart dan konsumen sebagai pengguna terakhir. Distribusi sayuran organik di Dusun Aerlow dan Desa Waai melalui dua saluran yaitu saluran pertama: petani à swalayan frismart à konsumen. Saluran kedua : petani à konsumen. Rantai kedua memberikan keuntungan lebih besar tetapi tidak kontinu karena konsumen tidak setiap hari melakukan pembelian sayuran organik di lokasi produksi. Produsen memilih untuk menjual ke frismart karena kontiutas pasokan sayuran lebih terjamin. Jenis-jenis sayuran yang dipasok petani antara lain kangkung, sawi, dan bayam. Jumlah sayuran organik yang dipasok petani antara 300-400 ikat untuk satu kali penanaman per jenis sayuran. Petani sayuran organik menjalin hubungan baik dengan pihak frismart melalui rasa saling percaya, komitmen, kerjasama, saling terbuka dan saling komunikasi. Sayuran organik layak diusahakan karena nilai B/C =1,26, artinya apabila seratus rupiah dikorbankan petani untuk melakukan aktivitas usahatani sayuran organik maka petani akan memperoleh tambahan manfaat bersih sebesar 126 rupiah.

Published
2018-10-27